RIZQI39INDRA

 

Keterikatan

Dec 16, 2020 / rizqindra

Anggaplah diri ini bukan siapa-siapa. Namun, biarkanlah diri ini menyampaikan sepatah duapatah kata untuk mewakili perasaannya.

Rasa cemas atau kekahwatiran pada diri seseorang akan muncul ketika ia merasa takut ditinggalkan atau sudah tidak ada perhatiaan oleh pemerhati mereka.

Begini analoginya, seperti sikap orang tua kepada anak-anaknya. Orang tua adalah contoh pemberi perhatian utama kepada anak-anaknya, sebaliknya sebagai anak akan patuh pada setiap perintah orang tuanya. Inilah yang disebut dengan ‘Keterikatan’. 

Ketika anak-anak merasa aman dan nyaman dengan kehadiran pemberi perhatiaan utama mereka, namun ketika orang tua meninggalkan anaknya sendiri, anak akan merasakan kecemasaan karena perpisahan dengan orang tua mereka. Begitu pula dengan seorang kakak kepada adiknya. 

Bagi seorang adik, karakter kakak sangat penting untuk keberlanjutan disetiap perjalanan yang dilaluinya. Ibarat di sebuah keluarga, kakak beradik merupakan dua sosok yang saling melengkapi. Keduanya seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Dalam kesehariaanya, adik akan melihat kakaknya dalam bertingkah laku, dalam bertindak, dan baik buruknya ia berucap kata demi kata yang keluar dari mulutnya. Lebih kurangnya seperti itu cara pandang adik terhadap kakaknya. Dengan kata lain, mereka sudah mampu menilai berguna atau tidak(relatif) hal tersebut di kemudian hari.

Terlepas dari itu semua, menjadi kakak bukan merupakan satu hal yang mudah. Dipikirnya, mungkin enak dapat bebas semaunya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang-orang terdekatnya. Pada kenyataanya, peran kakak untuk adiknya secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap pola pikir dan sikapnya nanti. Dalam praktiknya, tugas kakak jauh lebih daripada sekedar memberi contoh yang baik, menegur ketika salah, dan menasehati. Tetapi juga harus biasa memahami lebih jauh terhadap adiknya dan mengarahkan serta mempersiapkan yang terbaik dari sebelumnya. Agar kelak, kesalahan-kesalahan yang dulu pernah diperbuat tidak terulangi lagi. 

Sama halnya seperti di sekolah(SMANDA), saya dan kalian dipertemukan di organisasi ekstrakulikuler, memposisikan tempat antara menjadi kakak kelas dan adik kelas. Sewaktu sudah menjadi pengurus inti di Ekskul, saya mempunyai ekspektasi yang tinggi untuk dapat lebih baik lagi dari sebelumnya. Dalam hati berkata, “saya harus melakukan perubahan”. Namun, belum sampai separuh perjalanan saya menjabat, perjalanan itu terhenti oleh keadaaan. Keadaan sekarang pun berbanding terbalik, seakan semesta tidak mendukung apa yang sudah direncanakan. Karena adanya pandemi, belum terasa lama kita saling bertatap muka, menjalankan kegiatan bersama, dan mungkin secara jumpa masih hanya sejauh mata memandang serta perkenalan pun belum terasa dekat.

Bukan bermaksud untuk menyalahkan siapa pun, tapi itulah takdir kehendak dari sang Khaliq, kita harus menerimanya. Dari situlah saya belajar; “ketika kamu sudah berkpektasi tinggi, maka kamu harus siap juga merasakan kecewanya”. Selain itu, harus bisa memahami keadaan. Karena, terkadang melakukan sesuatu yang tidak sesuai keinginan akan terasa sangat membebankan. Meski terasa berat, saya harus dapat berkompromi dengan keadaan dan meyakinkan satu sama lain pasti kita bisa melakukannya.

Teruntuk kawan-kawan organisasi saya, terima kasih telah mengajarkan apa itu arti kerjasama, “bukan kerja rodi ya wkwk”. Begitu banyak pelajaran yang saya dapat dari kalian. Jika saya pernah melakukan tindakan yang kurang berkenan, maafkan kesalahan dan juga kekhilafan. Janganlah pernah merasa menjadi tongkat estafet yang gagal. Yakinlah sekecil apapun itu, amanah dan usaha yang sudah dijalani selama ini dan sejauh mana kaki ini melangkah akan membuahkan hasil yang baik. Percayakan tongkat estafet pada generasi selanjutnya, dan biarkan mereka yang akan menjaga dan bisa bertanggungjawab atas amanah yang sudah diberikan sampai mereka sendiri yang meneruskan ke generasi penerus suatu saat nanti. Walaupun keadaan tak kunjung membaik, kita hanya bisa mendo’akan agar semua seantiasa baik-baik saja.

Terakhir untuk adik kelas, saya sadar betul belum dapat menjalankan tugas sebagaimana mesti seorang kakak pada adiknya, dan diri ini mohon maaf untuk itu. Ini adalah masa kalian berorganisasi dan melatih diri dengan cara kalian sendiri. Ada atau tidaknya kakak kelas di samping kalian, kami percaya kalian akan kuat berdiri sendiri dan saling merangkul satu sama lain. Mungkin waktunya kurang pas dan tidak tepat, tapi belum terlambat mengucapkannya. Saya ingin mengucapkan; selamat melanjutkan tanggungjawab sebagai pengurus organisasi, semangat dan sukses dalam mengemban amanah yang nantinya sudah diberikan. Semoga berjaya, Never give up and stay strong!!

Keterikatan diantara kita sebagai kakak dan adik kelas akan berlangsung sampai kapanpun, baik didalam maupun diluar sekolah, entah  siapa dan bagaimana caranya biar waktu yang mempertemukaanya kembali.


Semangat Terus 

Selesai...

Komentar